NEGARA YANG LUPA AKARNYA

on Kamis, 28 Mei 2009


Jika boleh saya berkata sedikit lancang, saya ingin mengatakan bahwa negeri ini sangat naif, konyol, penuh pengkhianatan, kasarnya lagi durhaka. Kenapa saya mengatakan demikian ?, baik, untuk lebih jelasnya kita runut beberapa proses perjuangan bangsa ini dalam mewujudkan negeri impian dengan meluaskan dan melebarkan kerangka berpikir kita tanpa ada jejak-jejak doktrin yang tertinggal di kepala dan hati kita yang sekiranya membatasi keluasan dan kelebaran kerangka berpikir kita dan baru kemudian pada akhinya akan muncul sebuah kejelasan dengan sendirinya setelah kita berpikir.

 Diawal kalimat pertama saya mengatakan dengan sedikit lancang (atau bahkan sangat lancang menurut anda), bahwa negeri ini sangat naif, konyol, penuh pengkhianatan atau secara garis besarnya saya katakan durhaka. Kita semua sadar, bahwa negeri ini mampu seperti ini setelah menjalani beberapa fase (layaknya proses pertumbuhan manusia), dan fase terpenting adalah kemerdekaan, kemerdekaan yang mandiri, freedom, tetapi tidak liberal yang notabene bagian dari faham demokrasi. Kenapa ada pengecualian terhadap kemerdekaan dalam kata liberal dan demokrasi ?, baik kita coba pelajari seksama.

 Saya mengecualikan kata liberal dan demokrasi dalam konteks kemerdekaan bangsa Indonesia karena liberal dan demokrasi bukan bagian dari niat ataupun destinasi perjuangan para pejuang negeri ini dalam mewujudkan kemerdekaan. Liberal yang secara bahasa berarti sebuah kebebasan yang tanpa batas, yang sekalipun batasannya ada, bagi akal manusia manusia yang beradab itu bukan lagi suatu batasan melainkan sudah merupakan hal yang diluar adab normatif. Begitu juga dengan demokrasi yang berarti kekuasaan ada ditangan rakyat sudah barang tentu cenderung melecehkan akan kekuasaan Tuhan, mungkin anda ingin mengatakan bahwa konteks pemerintahan dan ketuhanan adalah sesuatu yang harus dipisahkan ?, jika itu pijakan anda silahkan anda baca kembali dan resapi Pembukaan UUD 1945, didalam alinea ketiga dikatakan ”Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”, bagaimana, bisa dipahami ?.

 Sekarang mulai jelas, bahwa telah terjadi pengkhianatan besar terhadap para pejuang bangsa ini yang tidak lain merupakan akar dari negara Indonesia. Dimana letak pengkhianatannya ? Pertama, dalam alinea ketiga UUD 1945 tersebut dikatan bahwa, Indonesia merdeka berkat adanya rakhmat Allah Yang Maha Kuasa yang kemudian disertai dengan adanya dorongan keinginan yang luhur (kuat/tinggi) untuk merdeka. Nah, dari sini saja sudah jelas sekali bahwa konteks pemerintahan dan ketuhanan tidak boleh dipisahkan, dan kekuasaan itu ditangan Allah bukan ditangan rakyat atau yang disebut dengan demokrasi (apabila kita tetap berpedoman kepada UUD 1945). Mungkin anda ingin mengatakan, bahwa maksud dari kekuasaan ditangan rakyat itu dalam hal pemerintahan bukan ketuhananan ?, anda harus ingat dan yakin bahwa pemerintahan dan ketuhanan itu harus menyatu dan jika anda tidak yakin berarti anda tidak berpedoman kepada UUD 1945, dan sudah barang tentu tidak menghargai dan menghormati para pahlawan bangsa dan kasarnya itulah pengkhianatan atau kedurhakaan terhadap para leluhur bangsa kita.

 Kedua, pada beberapa peristiwa peperangan dalam perjuangan kemerdekaan itu ada sebuah motivasi yang sepertinya dilupakan dan dibuang jauh-jauh oleh negara ini, para pahlawan kita dari masa Sultan Agung, Pangeran Jaya Karta, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, Pangerang Diponegoro, Teku Umar, Sultan Badarudin II, hingga ke era Bung Tomo, Soekarno dan Hatta (yang tentunya tidak dapat saya sebutkan satu persatu) itu mempunyai motivasi yang tidak jauh berbeda, yaitu Mati Syahid – Hidup Mulia atau yang lebih dikenal dengan Jihad sehingga melahirkan pasukan paling menakutkan, yaiu pasukan berani mati yang setiap tetesan darah dan hembusan nafas terakhirnya yang seolah-olah tidak berarti menurut mereka, karena menurut mereka ada yang lebih berarti yaitu kemerdekaan, harga diri, dan ketuhanan, jika anda ingin melihat lebih jelas seperti apa gambaran pasukan berani mati, maka tengoklah Palestina yang kurang lebih tidak jauh berbeda. Pada setiap pertempuran selalu dikomandoi dengan Allahuakbar.......! Allahuakbar...... ! dimana dalam setiap pekikan tersebut ada rasa keikhlasan akan jiwa raga kepada sang pencipta. Dari situ kita dapat melihat lebih jelas bahwa perjuangan bangsa ini tidak dimotivasi oleh liberal dan demokrasi, yang tidak lain dan tidak bukan liberal dan demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari propaganda penjajahan kaum kafir terhadap negeri ini yang notabene merupakan musuh yang dihadapi para pejuang kita dulu, jadi apabila liberal dan demokrasi itu sendiri menjadi hembusan setiap napas bangsa ini, maka sungguh naif bangsa ini, benar-benar durhaka.

 Seperti inilah realita negeri ini didalam tatanan dunia, jika dinegara lain kaum kafir mayoritas mampu menjadi tuan rumah sehingga kaum muslim yang minoritas yang sebagian hak-hanya dihilangkan harus berada dibwah kendali hukum mereka yang mayoritas, kenapa dinegara ini kaum muslim yang mayoritas tidak mampu menjadi tuan rumah, yang tentunya akan tetap melindungi dan mengayomi segala hak-hak kaum minoritas karena memang begitu hukum dalam muslim, harus berkuasa namun tidak boleh menyiksa dan iu telah dibuktikan selama 14 abad kekhalifahan. 

 Perlu dipahami, bahwa substansi dari pembicaraan saya ini bukan terletak pada mayoritas dan minoritsanya suatu kaum dinegara ini, melainkan adanya sebuah penyimpangan dalam pedoman negara ini yang konon sudah disakralkan dan tidak dapat diganggu gugat, yaitu UUD 1945, jika memang pedoman itu harus dipahami dan dijalankan kenapa realita yang nyata dalam kehidupan bernegara ini tidak sesuai dengan isi yang terkadung dalam pedoman tersebut ?, inilah tugas kita bersama untuk menyesuaikan kembali antara realita dengan pedoman yang dipakai jika memang kita masih berpedoman pada UUD 1945. Saya menyadari, sebagaimana manusia biasa tentunya saya juga tidak luput dari kesalahan dan kehilafan, termasuk dalam penulisan ini, namun saya juga menyadari bahwa kita sebagai manusia yang diberi akal, pikiran dan perasaan tentunya tidak dapat menyembunyikan setiap kesalahan dibalik kelemahan dan kekurangan kita, oleh karena itu harus ada yang namanya pertanggung jawaban. Jadi, saya sadar tulisan ini penuh kekurangan sebagai representatif diri saya yang manusia biasa, namun saya juga beranggung jawab atas diri saya yang terrepresantatifkan pemikirannya.


0 komentar:

Posting Komentar